Mutiara's Notes

KORUPSI Mulai Menghilang

20 Mar 2014 - 21:50 WIB

f9b9d9492f41f3cf3116949cdc964757_korupsiPada tahun 2009, saat-saat menjelang pemilu, kata KORUPSI begitu ramai menghiasi media. “Katakan Tidak Pada Korupsi!” inilah salah satu jargon kampanye yang paling populer. Dibintangi oleh beberapa orang yang juga tak kalah populer, dengan gerakan yang begitu khas, menunjukkan gerak tangan menolak, iklan salah satu parpol peserta pemilu ini berkali-kali menghiasi layar kaca kita. Saat itu, iklan ini bekerja begitu efektif, hingga, parpol pemiliknya pun meraup kemenangan. Parpol lain juga tak mau kalah menggunakan kata ini untuk jargon kampanye mereka, meski dengan cara yang berbeda.

Bukan hanya di layar kaca, tepi jalan pun penuh dengan alat peraga kampanye dengan KORUPSI. Anti Korupsi, Bersih dari Korupsi, atau yang lain, menjadi pilihan untuk menarik simpati.

Saat itu, KORUPSI menjadi satu kata sakti yang harus dirapal oleh semua caleg. Jika tidak, sulit sekali untuk meraih simpati yang diharapkan. Bahkan, jika ada caleg yang sudah jelas-jelas korupsi pun masih berani merapalkan mantra korupsi ini dalam janji kampanye mereka. Begitu ampuhnya kata KORUPSI ini hingga tak satupun caleg mau melewatkannya. Maklum, saat itu berita keterkaitan kader parpol di pemerintah dengan kasus korupsi belum begitu ramai.

Hari ini, pada situasi yang sama, saat-saat menjelang pemilu, parpol pun ramai berkampanye, lewat layar kaca atau yang lainnya. Namun, ada yang terlihat cukup janggal. Apalagi kalau bukan kata KORUPSI. Saat ini, rupanya, isu KORUPSi sudah tidak begitu manjur lagi. Buktinya, tak banyak caleg atau parpol yang merapalkannya. Bintang iklan yang menunjukkan gerak tangan menolak pun sudah tidak muncul lagi di layar kaca. KORUPSI sudah mulai menghilang dari kampanye parpol. KORUPSI sudah tidak lagi menjadi mantra sakti. Malah, mantra pembunuh.

Sekarang, parpol atau caleg lebih suka menggunakan jurus-jurus kesejahteraan, ketentraman, pendidikan, keindonesiaan, pembangunan,kerakyatan, dll sebagai mantra sakti mereka. Anti korupsi sudah jadi barang langka dan tak akan diungkit-ungkit lagi. Sederhana saja alasannya, Tampaknya, parpol mulai sadar bahwa rakyat sudah pintar. Kampanye anti korupsi hanya bualan semata. Hanya untuk menarik simpati, dan tak benar-benar bisa direalisasikan. Buktinya, indeks korupsi negara ini masih tetap tinggi. Bahkan, tak sedikit dari kader parpol di pemerintahan yang terseret kasus korupsi. Bahkan, bintang iklan yang dulu mengerakkan tangan menolak pun kini ikut-ikutan terseret. Alih-alih simpati, janji anti korupsi hanya akan membuat rakyat tertawa sinis.

Yang membuat saya penasaran, jika pada tahun ini kata KORUPSI mulai menghilang karena tak mampu dipenuhi, di tahun-tahun mendatang, kosakata apalagikah yang bakal menghilang karena alasan yang sama? Andai di setiap pelaksanaan kampanye ada kosakata yang hilang, saya juga menjadi penasaran, kosakata apalagikah yang bisa dijadikan mantra sakti?


TAGS   korupsi / anti korupsi / kampanye porpol / kasus korupsi / kampanye anti korupsi /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive