Mutiara's Notes

Sakit

3 Apr 2014 - 21:16 WIB

“Ha…ha…ha…ha…ha…ha….”

Tiba-tiba saja malam itu suasana hening menjadi gaduh oleh tawa Bang Joni yang mengelegar.

“Ada apa, Bang? Apa yang lucu?”

“Ha…ha…ha…ha…ha…ha….”

Sekali lagi hanya tawa itu yang keluar, sambil sesekali pria kurus itu menjungkal-jungkalkan tubuhnya ke lantai. Sesekali pula ia terbatuk-batuk saking gelaknya ia tertawa.

“Edan, edan. Tampaknya, ia sudah edan?”, kata Bang Joni sambil menunjuk ke arah layar TV.

Saya sendiri terbengong-bengong. “Siapa yang sedang gila? Siapa yang edan? Apa Tom dan Jerry yang sedang berkejaran di layar itu?” Saya masih terheran-heran sambil memperhatikan si Tom yang sedang tergencet tuts piano.

“Kamu tadi dengar tidak, ada kabar bahwa sebuah partai sedang bernostalgia dengan masa lalu? Pimpinannya mengelu-elukan kesuksesan sang presiden kala itu?” “Iya. Bahkan, gambar si Mbah sudah muncul dari dulu. Di kaos, bagian belakang truk, stiker-stiker, atau semua tempat yang bisa ditempel dan gambar.” “Nah, itu dia. Kayaknya ia sudah hilang ingatan. Lumuran darah di masa itu saja belum kering benar. Nama-nama yang hilangpun belumlah kembali, hanya terngiang-ngiang saja. Banjir air mata juga belum usai. Kok, berani-beraninya ia merayu rakyat dengan nostalgia itu. Ia ataupun teman-temannya mungkin termasuk yang dulu ikut menghujat si Kakek. Sekarang, saat nafsu ingin berkuasa sedang tinggi-tingginya, ia melupakan semuanya. Bukannya itu tanda-tanda sakit jiwa?”

Saya hanya termanggu.

“Hu…hu…hu…hu…hu…”

Entah apa sebabnya, Mak Jun, tiba-tiba saja bercucuran air mata. Semua pelanggan di warungnya pun saling pandang kebingungan.

“Kenapa, Mak? Ada yang sakit keras atau meninggal dunia?”

“Iya.” “Siapa?” semua orang di warung itu bertanya hampir serempak.”Mak.” “Mak sedang sakit apa?” “Mak sedang sakit mata dan telinga. Mata Mak periah dan telinga mendengung melihat dan mendengarkan aksi bintang iklan yang sedang ramai di layar TV kita. Coba lihat iklan-iklan itu. Ada seorang raja yang sedang ingin memimpin bangsa ini. Emangnya, ia punya modal untuk memajukan bangsa dengan problematika yang kompleks seperti ini. Tak cukup hanya bermodalkan gitar dan syair-syair syahdu. Juga tak cukup hanya dengan keprihatianan dan kesedihan. Harus ada visi dan misi ke depan yang jelas dan kuat. Coba juga dengarkan seorang tokoh yang selalu menyebut-nyebut kekayaan laut, pertanian, hutan, dan alam negara ini. Katanya, ia ingin menjadikan Indonesia sebagai Macan Asia. Hah, emang dia pernah melancong ke desa dan menanam padi. Atau, menerobos hutan dan mendaki gunung? Mak, sedih sekali mendengarkan iklan-iklan itu. Gambar dan suara itu hanya membuat kita sakit, sakit mata, telinga, hingga mungkin sakit ingatan.”

Sakit! Kata itu terngiang terus di telinga, hingga ku ingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

“Kayaknya, semakin banyak saja orang yang gila dan sakit jiwa,” kata Tono yang sedang asyik menyetir mobilnya. “Lho, emangnya ada apa?” “Coba lihat tulisan-tulisan di pinggir-pinggir jalan itu. Sungguh indah dan meneduhkan. Padahal, kamu tahu sendiri janji-janji seperti ini sudah pernah terucap di tahun-tahun sebelumnya. Namun, apa buktinya? Bahkan memiliki kepercayaan saja sulitnya minta ampun. Masih harus dikejar-kejar, diburu-buru, dan diintimidasi. Sekarang, mereka mengucapkannya lagi, menjanjikannya lagi, menjunjung tinggi ke-Bhinekaan. Apa itu bukan tanda-tanda orang gila yang ingatannya sudah menghilang. Orang sakit yang seharusnya lebih layak tinggal di rumah sakit ketimbang cengar-cengir di pinggir jalan?”

“Ya, mungkin selama ini mereka sudah berusaha namun belum berhasil. Dan, sekarang mereka ingin melakukannya lagi. Jadi kan wajar saja kalau masih mengucap janji yang sama.” “Kamu itu terlalu waras. Hilangkan sedikit kewarasanmu, baru kau bisa memahami mereka. Emangnya kamu pikir janji itu terucap dari mulut dan hati mereka. Itu semua hasil kreasi tukang baliho atau spanduk. Bahkan, aku saja meragukan kalau mereka yang ada dalam gambar itu mengerti dan memahami tulisan yang ada selalu menyertai mereka itu.”

Mungkin benar, kita sedang sakit. Sebagian sakit karena tak juga dapat kuasa, hingga 1001 cara digunakan untuk mengobati rasa sakitnya. Sebagian yang lain sakit karena terlalu sering mendengarkan janji-janji yang tak juga kunjung terealisasi. Hingga, sering kali perut terasa mual dan keinginan muntah menjadi-jadi saat telinga dan mata menangkap kata dan gambar yang indah. Sakit yang sudah akut dan kritis, yang tak mudah disembuhkan oleh obat-obat instan.


TAGS   kampanye partai / sakit / lupa ingatan / politik / politikus / partai politik /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive