Mutiara's Notes

Nyapres

16 Apr 2014 - 21:38 WIB

8e98cd8cc122bcfa7d42f0e37b79ce80_presidenTiba-tiba saja, semua menjadi gulita. Hitam. Suasana begitu sepi menyengat. Hening. Lalu, samar-samar, dari kejauhan terlihat titik putih. Kecil dan lama-kelamaan membesar. Keadaan hitam pekat berubah menjadi terang benderang. Terlihatlah kerumunan manusia berdiri berdesakan. Di tangan mereka, terangkat pamflet, spanduk, atau baliho. Juga, beberapa membawa poster yang diangkat setinggi dada hampir menempel ke tubuh mereka. Di kepala mereka juga terikat kain. Bukan kosong, ada tulisannya. Lamat-lamat, kucoba membaca tulisan-tulisan yang terbentang itu. “Kembalikan tanah kami!, Mana janjimu!, Kami butuh rumah, bukan janji!” dan lain sebagainya. Aku hanya bisa terdiam, memandang kerumunan manusia tua, muda, laki dan perempuan tersebut. Sejurus kemudian, sebuah suara dari sebuah alat pengeras terdengar begitu nyaring.

“Kau dan anak buahmu telah mengusir kami secara paksa dari tanah kehidupan kami. Sawah-sawah yang seharusnya menguning oleh daun padi, kini bergolak menyemburkan limpur panas. Kau sudah berjanji untuk menganti dan mengembalikan semua milik kami. Tapi mana buktinya? Sampai saat ini, masih banyak yang harus berjuang sendiri menghidupi keluarga mereka. Sekarang, kau ingin menjadi presiden, dan menjanjikan kesejahteraan untuk negeri ini. cobalah berpikir ulang. Nasib beberapa kepala saja tak kunjung kau sejahterakan. Mana mungkin kau akan menyejahterakan ratusan juta kepala di negara ini?”

Suara itu terus berteriak-teriak nyaring. Kerumunan manusia itupun tak mau kalah. Mereka berteriak-teriak. Tak jelas apa saja yang mereka katakan. Namun, dari raut muka mereka, terlihat kalau mereka sedang merah. Tak puas. Mereka sedang menuntut.

Setelah beberapa lama, suara-suara itu tiba-tiba mengecil. Terus semakin kecil. Dan sejurus kemudian menghilang. Yang tersisa, suasana sepi seperti sebelumnya. Sekeliling pun berubah kembali menjadi sunyi.

Lalu, tiba-tiba, muncul sebuah bayangan. Oh bukan satu, tapi beberapa. Kulihat diriku sedang dikerumuni beberapa orang. Mereka membawa perangkat perekam. Di dada mereka juga tertempel identitas jelas, Reporter.

“Apa tanggapan bapak terhadap isu-isu kalau bapak akan nyapres?” “He…he…he…Saya gak mikir. Itu nanti saja. Yang penting sekarang saya bekerja untuk kota ini.”

Saya ingin tertawa melihat diri saya sendiri. Kenapa mesti “cengegesan” dalam menjawab pertanyaan reporter itu. Terlihat, kata-kata saya juga kurang tegas. Mulai terpikir, kira-kira apa saya pantas menjadi presiden? Cara berkomunikasi saya saja kadang kurang meyakinkan, masih cenderung terdengar “ha..ha.. he..he”. Padahal, negara ini menghadapi banyak masalah serius. Perlu ketegasan karena jika tidak, kondisinya akan tetap sama dengan yang sekarang. Perlu fokus dalam berbicara. Tertata dan tidak hanya spontan. Kerja keras saya dalam menemui masyarakat bawah harus diimbangi dengan ketegasan dalam berbicara, karena itu sangat penting dalam komunikasi. Kira-kira pantas gak ya saya nyapres?

Lama sekali saya tercenung melihat kondisi ini. Satu per satu gambar-gambar reportase saya keluar. Semua sama, masih spontas, kurang fokus, dan “cengegesan.” Ahhh!

Suasana kembali hening. Tak ada suara, bahkan bunyi jangkrik.

Lalu, tiba-tiba, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Suara speaker masjid sebelah sayup-sayup terdengar. Aku tergeregap. Ah, rupanya hanya mimpi. Gencarnya pemberitaan akhir-akhir ini rupanya cukup kuat tertanam dalam memoriku. Ah, kenapa juga harus bermimpi menjadi mereka yang ingin nyapres. Kenapa gak jadi artis yang dikelilingi wanita cantik atau fans-fans fanatik. Peduli amat. Seru juga. Setidaknya, aku jadi tahu, siapa yang seharusnya kupilih nantinya.

Oh…ya, masih kurang satu. Sayang aku tidak bisa tidur lagi. Hari sudah menjadi pagi. Semoga besok aku bisa bermimpi untuk yang satu ini, agar ada pilihan yang jauh lebih jelas.


TAGS   nyapres / capres / calon presiden / pemilu 2014 /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive