Mutiara's Notes

Nyuci

10 Sep 2014 - 11:16 WIB

Siang itu, seperti biasa terjadi percakapan ringan di kantor, antara aku dan seorang teman. Topiknya melanjutkan rasa penasarannya, tentang kegiatanku bersih-bersih rumah dan cuci baju, yang menurutnya harus menjadi tanggungjawab istriku.

“Kok enak banget istri sampeyan?”

“Ya iyalah. Memang kenapa? Apa ada yang salah kalau aku nyuci dan ngepel rumah? Lagian, aku juga nggak mau dikatakan sebagai suami yang egois.”

“Apa hubungannya?” tanyanya penasaran.

“Ya banyaklah. Begini, dari dulu, aku menyakini bahwa tugas mencari nafkah itu menjadi kewajiban suami. Tugas istri, mengatur yang di rumah. Itulah pembagian tugas yang paling adil. Satu di luar, satu di dalam, saling mengisi dan melengkapi. Namun, harus tetap kita akui tugas istri sangat banyak dan berat. Jauh lebih berat dari tugas suami yang cari uang di luar. Nggak percaya? Cobalah sesekali amati aktifitas istrimu di rumah saat kamu tidak bekerja. Dari pagi sampai sore tidak ada habisnya. Mulai dari masak, nyuci, bersih-bersih rumah, setrika, sampai masak lagi di sorenya.”

“Nah, sekarang kalo ada istri yang juga ikut bekerja alias mencari nafkah, berarti siapa yang diuntungkan? Suamikan?” lanjutku. “Tanggungjawab suami mencari nafkah untuk keluarga menjadi lebih ringan, karena terbantu oleh istrinya. Padahal, tanggungjawab istri menjadi lebih berat. Tanggungjawab menuntaskan kewajiban di dalam dan di luar. Masih harus masak dan segala tetek bengeknya plus kewajiban-kewajiban di tempat kerjanya.”

“Ya salah siapa dia bekerja?”

“Nggak usah begitulah. Kamu juga senang toh istrimu bekerja. Keuangan kalian bisa berlipat di tiap bulannya, karena kalian punya dua sumber penghasilan. Jujur sajalah!”

“He…he…he…”

“Aku yakin, kamu juga memiliki pemikiran yang sama denganku, kewajiban itu harus ditunaikan, jika tidak berarti tidak amanah. Iyakan?”

“Ya, sepakat.”

“Dan, dengan semakin banyaknya kewajiban yang dimiliki istrimu, maka ada kemungkinan ada kewajiban-kewajiban yang tidak tertunaikan dengan baik, atau bahkan terabaikan sama sekali. Dan, kebanyakan kewajiban yang terabaikan adalah kewajiban di dalam alias di rumah. Misalnya, jadi malas masak atau nyuci karena nggak punya waktu dan kelelahan sepulang kerja.”

“Kan, harusnya itu sudah terpikirkan?”

“Itu idealnya. Kayak kamu nggak pernah merasakannya saja. Kita semua manusia, Bro. Kadang juga terserang rasa malas.”

“Terus?”

“Ya, kalo itu yang terjadi, berarti banyak tugas-tugas rumah yang tak terselesaikan dengan baik, atau kalaupun itu terselesaikan, pasti istrimu akan sangat kelelahan. Masak kamu tega?”

“Maksudmu, kita harus meringankan tanggungjawab istri kita?”

“Nah, betul. Itulah kenapa aku mengambil beberapa tanggungjawab istriku. Bukan apa-apa, itu perwujudan rasa terima kasihku pada istri yang telah membantu mencarikan nafkah. Bayangkan, tanggungjawabku mencari nafkah sudah dibantu oleh istri. Wajarkan kalau aku juga meringkankan tanggungjawab istriku di rumah? Itulah makna saling mengisi yang kupahami.”

“Bentar, aku mau lihat anak-anak di kelas dulu. Kapan-kapan lagi ya disambung,” kataku sambil berlalu pergi.


TAGS   membantu istri / tanggungjawab / suami-istri /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive