Mutiara's Notes

Aku dan Pendidikan yang Mengubahku (1)

10 Jan 2014 - 20:18 WIB

70a810eb67d0bc1c7b3952f75d7ce6ea_aku-dan-pendidikanPendidikan dan perubahan adalah dua kata yang tak terpisahkan. Kneller mengatakan bahwa pendidikan merujuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan perubahan atau perkembangan jiwa, watak, atau kemampuan fisik seorang individu. Kebiasaaan-kebiasaaan manusia yang sebelumnya telah tertanam akan berubah atau berkembangan dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang didapatkannya. Begitulah pengalamanku selama ini, yang ku dapatkan dari dunia pendidikanku.

Aku dilahirkan di sebuah desa di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, dari keluarga petani tulen. Bahkan, bapakku katanya tidak sempat lulus SD (atau SR kala itu). Ibuku masih sedikit beruntung karena sudah berstatus lulusan SD. Ku habiskan masa kecilku di desa ini. Usia 4 tahun aku sudah mulai masuk TK kecil. Setahun kemudian aku sudah di TK besar. Kala itu, guru TK di tempatku hanya satu, Bu Zaenab. Sungguh luar biasa, harus mengajar kelas kecil dan besar dalam waktu bersamaan. Setiap pagi, saat kami melihat beliau datang dengan membawa sepeda ontel besar (masyarakat menyebutnya sepeda Unta) kami selalu bernyanyi, “Eh…Bu guru rawuh” yang kami ulang-ulang dengan intonasi yang berbeda. Kadang, tidak terdengar seperti sebuah nyanyian, melainkan hanya teriakan. Entah sejak kapan kebiasaan ini muncul. Yang jelas, sejak saya menjejakkan kaki di TK ini pertama kali, kebiasaan di pagi hari ini sudah ada. Sayang, sekarang sekolah TK ini sudah tidak ada lagi. Kalah oleh sekolah-sekolah TK lain yang lebih maju di daerahku.

Tepat di usia 6 tahun, aku sudah mendaftar di SD, yang juga masih di desa ku. SDN Jatirenggo II namanya. Ada embel-embel II karena berada dalam satu lingkungan dengan SDN Jatirenggo I. Hanya saat kelas satu aku di antar jemput oleh Bapak dengan sepeda kebonya. Saat di kelas dua setiap pagi, aku sudah berangkat ke sekolah senduiri dengan sepeda BMX, hadiah khitanku dari Bapak, walau sebenarnya aku lebih saku berjalan kaki bersama teman-teman melalui jalan pintas di pematang sawah. Sejak di kelas dua ini pula mulai tumbuh kebiasaan buruk dalam diriku, merokok. Awalnya, hanya mencoba-coba. Namun, lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu aku membaw sebungkus rokok dalam tas sekolah, yang kemudian ku titipkan di warung dekat sekolah. Di sinilah biasanya aku dan beberapa temanku merokok saat istirahat. Untungnya, kebiasaan ini hanya bertahan sampai aku berada di kelas 4.

Meski sudah terjangkiti virus merokok, aku tetap mengingat pesan orang tuaku, “belajar yang rajin.” Entah kapan pertama kali aku memulainya, sehabis sholat maghrib aku selalu duduk melantai di ruang tamu untuk belajar, mengerjakan PR atau sekedar membaca buku. Dini hari jam 2.30 atau 3.00 pagi, aku bangun dan kembali belajar, meski hanya berbekal lampu temple (obor) atau lilin. Maklum, saat itu PLN belum masuk dan genset desa dimatikan pada pukul 21.30.

Memang, tidak ada prestasi yang bisa dikatakan luar biasa. Namun, ada satu kejadian yang tidak pernah bisa ku lupakan sampai saat ini, tepatnya saat menjelang pelaksaan THB (tes hasil belajar) Catur Wulan pertama. Entah kenapa, di jalan sepulang dari masjid setelah jamaah Maghrib, aku tiba-tiba meminta bapak untuk mendoakanku sukses dalam ujian besok. Sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Bapak pun bilang, “Iya.” Dan, hasilnya setelah penerimaan buku rapor, aku mendapatkan rangking kedua, juga sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Sungguh luar biasa! Satu hal yang ku pelajari saat itu, doa dan restu orang tua sangatlah penting dalam setiap aktifitas yang kita lakukan.

Oh ya..selain di sekolah di SD pada pagi hari, aku juga sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada siang sampai sore (jam 13.00 - 16.30). Bisa dikatakan, dulu aku sudah menjalani full-day school, jauh sebelum banyak sekolah di kota-kota besar menerapkan sistem ini.

Sampai lulus SD inilah aku menjalani masa-masa kecilku di desa ini, karena setelahnya aku melanjutkan sekolah di kota lain, yang meskipun bertetangga dekat, Gresik, tepatnya di Bungah, di sebuah pesantren.

Pertama kali datang, pesantren masih sepi, belum banyak santri yang datang. Mungkin, aku terlalu rajin dan bersemangat. Hanya ada beberapa santri baru yang sudah ada. Malam pertama rasanya sangat ganjil. Aku yang biasa tidur di atas kasur berbantal atau guling, tiba-tiba saja harus tidur melantai, tanpa alas, apalagi bantal empuk. Hanya, satu buah buku yang saat itu ku jadikan sebagai pengganjal kepala agar tidak sakit. Jam 03.00 pagi, ku dengar pintu kamar sebelah di gedor-gedor dengan sangat kerasnya. Ku terbangun dan langsung ku tengok, “Ah..ada orang yang sepuh sedang mencoba membangunkan kami.” Beberapa hari kemudian aku baru tahu bahwa lelaki sepuh tersebut adalah mbah kyai, paman dari kyai pemangku pesantren ini.

Hari-hari pertama ini memang sangat berat. Aku tidak memiliki begitu banyak pakaian. Belum genap seminggu, pakaianku sudah habis karena kotor. Mencuci pakaian, menjadi pengalaman baru bagiku. Belum lagi harus menimba dari sumur, karena tidak ada kran air untuk mencuci baju. Begitu juga di saat lapar. Tidak ada lagi nasi, ikan, atau sayur di almari. Aku harus berangkat sendiri ke warung di depan pesantren. Satu hal yang ku pelajari saat itu, aku harus mandiri, memenuhi segala apa yang ku butuhkan sendiri. Aku harus mencari makan sendiri, mencuci sendiri, dan mengatur waktuku sendiri, kapan belajar dan kapan bermain. Tentunya, ini tidak termasuk kebutuhan finansial, karena aku masih mendapatkannya dari orang tua.

Di bulan-bulan pertama, orang tuaku terutama bapak sering datang menjenguk. Kalau tidak salah setiap hari Jumat setelah Ashar. Lalu, sebulan sekali, dan akhirnya hanya setelah ku minta berkunjung.

Untuk urusan makan, tidak setiap hari aku pergi ke warung. Kalau tidak salah, setelah 4 bulan aku di pesantren, sesekali aku bersama teman-teman memasak nasi sendiri. Kami mengumpulkan uang untuk membeli kompor, panci, dan juga beras. Dengan panci seukuran kilo kami memasak, lauknya kami membeli ikan asin di pasar. Sementara itu, untuk kuahnya cukup dengan merebus air yang dicampur dengan garam dan cabe. Hanya ada rasa asin dan pedas. Cukuplah itupun sudah nikmat rasanya. Apalagi, setelahnya kami meminum air intip dari panci. Hmmm….tak ada yang lebih nikmat dari ini. Pastinya, bukan karena nasi, ikan, atau kuahnya kami bisa merasakan kenikmatan menyantap makanan, tapi kebersamaan. Kami memasak bersama, merebus air bersama, membeli kebutuhan bersama. Dan, akhirnya merasakan kenikmatan itu bersama-sama. Satu lagi yang terpatri dalam pikiranku kala itu, kebersamaan akan mampu mengubah semuanya, yang sulit menjadi mudah, yang biasa menjadi nikmat luar biasa.

Enam tahun ku habiskan masa sekolahku di pesantren ini, hingga aku lulus MA (Madrasah Aliyah). Tiga tahun pertama, aku termasuk santri dan murid yang gak neko-neko. Peraturan pesantren dan sekolah tak pernah ku langgar. Kalaupun ada, itu hanya dalam porsi kecil sekali, bukan tergolong pelanggaran. Sederhananya, aku menjadi santri dan murid yang baik, yang hampir selalu berada pada baris terdepan ketika sholat berjamaah, yang selalu bangun pagi saat ayam baru berkokok. ]

Namun, tiga tahun berikutnya, perubahan besar terjadi. Dimulai ketika aku di kelas satu MA. Entah kenapa, aku sudah mulai suka keluyuran. Di pesantren hanya ketika ada program ngaji saja. Selebihnya, ku habiskan jalan-jalan dengan teman-temanku di luar pesantren. Kadang, dini hari aku keluar pesantren dengan meloncat pagar hanya untuk menonton gelaran sepak bola, baik itu liga Italia, Champion, atau yang lain. Berurusan dengan pengurus pesantren sudah menjadi kebiasaanku. Di adili di kantor pesantren pun sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, pernah satu hari aku diburu pengurus pesantren karena menghilang selama satu minggu penuh. Hingga, sebuah sapu mendarat di punggung dan terbelah menjadi dua.

Di sekolah hal yang sama terjadi. Dalam satu catur wulan, persentasi ketidakhadiranku jauh mengalahkan keberadaanku di ruang kelas. Bahkan, ada seorang guru yang menganggapku sebagai murid baru karena tidak pernah bertemu denganku sama sekali, kecuali sehari sebelum pelaksanaan ujian sekolah. Seringkali aku hanya berada di kelas saat jam pelajaran pertama atau kedua, selebihnya aku pulang dan tidur di pesantren, tentunya di tempat tersembunyi yang tak seorangpun tahu. Pada saat ini, akupun sudah mulai melakukan hal-hal yang lebih berani, mencicipi minuman keras. Seperti biasa, awalnya hanya coba-coba, hingga akhirnya menjadi ketagihan. Akupun sudah mulai melakukan kebiasaan lamaku dulu, merokok.

Semua baru berhenti, kecuali merokok, saat aku memasuki kelas tiga MA. Aku sudah mulai sering muncul di pesantren. Sekolahpun sudah mulai rajin, meski kadang-kadang masih datang terlambat. Banyak diantara teman-temanku yang terheran-heran melihat perubahanku. Belum lagi, kecepatanku dalam menyerap dan menghafalkan berbagai pelajaran yang ku tinggalkan pada kelas sebelumnya. Sejatinya, aku sendiri pun terheran-heran. Semua pelajaran yang sebelumnya ku anggap sulit karena menggunakan pengantar bahasa Arab, ternyata bisa dengan mudah ku pahami. Tentunya, porsi jam belajarku sangat panjang. Jika tidak salah, aku mulai belajar sejak sehabis sholat Isya’ hingga menjelang Shubuh, terutama saat akan menghadapi ujian akhir (Ebta/Ebtanas). Dalam hati, aku berkata Ah..aku juga mampu kalau aku mau belajar. Selama ini, semua terjadi karena aku malas.

Akhirnya, enam tahun ku lewati di pesantren tersebut. Banyak hal yang ku pelajari, kemandirian, tanggungjawab, kebersamaan, dan berbagai ilmu kehidupan yang lain. Prestasi sekolah! ah..lupakan. Ilmu kehidupan ini jauh lebih penting, dan menjadi modal besar bagiku saat aku mulai menapaki jenjang kuliah. (bersambung)


TAGS   aku dan pendidikan yang mengubahku / kemandirian / kebersamaan / pesantren / pendidikan di pesantren / sekolah dasar / tanggungjawab / mengaji di pesantren /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive