Mutiara's Notes

Nasib Bahasa Indonesia di Bangku Sekolah

6 Jan 2014 - 21:24 WIB

3372110d5bced227a53d047d50882be0_bahasa-indonesiaBukan sekali kita mendengar adanya isi tak layak konsumsi bagi anak-anak sekolah di buku sekolah mata pelajaran Bahasa Indonesia (buku paket atau juga LKS). Sudah beberapa kali kasus ini muncul. Dan pada saat yang bersamaan, kritik serta kegundahan pun bermunculan, dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, guru, atau pemerhati pendidikan.

Sebenarnya, kasus konten bermasalah ini hanya satu dari sedikit yang bisa kita temukan dalam buku sekolah. Masih ada persoalan lain yang juga perlu kita cermati.

Misalnya, penggunaan ejaan. Seperti yang banyak kita ketahui, bahasa Indonesia sering mengalami penyempurnaan ejaan baku. Setidaknya, sudah dua kali ejaan bahasa Indonesia disempurnakan sejak pertama kali dibukukan tahun 1972. Entah kenapa, seringkali dalam beberapa buku, terutama LKS, penggunaan ejaan ini kurang terperhatikan. Masih banyak yang menggunakan ejaan tidak baku. Misalnya, orang tua yang tertulis orangtua. Hal ini sering menimbulkan kebingungan siswa, mana benar dan mana salah. Belum lagi, adanya penggunaan ejaan yang mereka temukan dalam keseharian mereka.

Ini baru salah satu persoalan yang kita temukan dari buku sekolah. Persoalan lain bisa kita lihat dalam kaitannya dengan metode pengajaran dan bahan latihan atau tes. Pernah, satu hari saat saya sedang menjadi pengawas ujian sekolah, seorang siswa bertanya, “Pak, ini pelajaran Bahasa Indonesia atau IPA?”. Saat saya mencoba melihat soal yang ditanyakan, dalam hati saya juga merasakan hal serupa. Alih-alih untuk menekankan pemahaman siswa terhadap ilmu kebahasaan, pertanyaan itu hanya menanyakan definisi sesuatu, “Apa itu tanaman hidroponik?”. Kasus-kasus serupa juga akan sering kita temukan dalam LKS andai kita mau melakukan pengecekan.

Maka, terkadang saya merasa sedikit maklum jika nilai Bahasa Indonesia kalah dari pelajaran yang lain. Kandungan materi di kelas seringkali tidak berkorelasi dengan soal tes yang diberikan. Akibatnya, siswa seringkali merasa kesulitas dalam menjawab, terutama terkait dengan permasalahan kebahasaaan yang memang cukup rumit.

Kurangnya Dorongan Menulis

Sejatinya, belajar bahasa tidak melulu tentang teori, terutama pada level sekolah dasar. Akan lebih bermanfaat jika siswa didorong untuk memproduksi bahasa yang dipelajari tersebut, baik secara oral maupun tertulis. Kesadaran dan pemahaman siswa akan jauh lebih kuat tertancap karena mereka menjadi subjek aktif yang memproduksi bahasa tersebut.

Dalam kaitannya dengan pelajaran Bahasa Indonesia, produksi secara oral mungkin sedikit bisa dikurangi. Siswa telah terbiasa menggunakan bahasa nasional ini sebagai media komunikasi sehari-hari. Sebagai gantinya, siswa didorong untuk lebih banyak menulis (mengarang).

Menulis akan memberikan pengalaman belajar tersendiri bagi siswa. Selain mereka bisa mengeksplorasi imajinasi mereka, pemahaman akan penggunaan ejaan dan aspek kebahasaan yang lain akan lebih kuat. Tak bisa dipungkiri bahwa selama ini pemahaman kebahasaan siswa didapatkan dari komunikasi oral mereka sehari-hari. Padahal, seringkali apa yang terucap tidak selalu sama dengan apa yang tertulis. Walhasil, siswa mudah sekali mencampuradukkan apa yang mereka ucapkan dengan yang mereka tulis. Catatannya, sang guru harus rela meluangkan waktu untuk mengoreksi dan memberikan feedback dari tulisan siswa tersebut. Jika budaya menulis ini sudah tertanam kuat, lama kelamaan language awareness siswa akan muncul dan tertanam.

Sayangnya, tidak banyak guru yang mendorong munculnya budaya menulis ini. Seringkali, target pembelajaran terfokus pada kebutuhan menjawab soal, bukan kebiasaan siswa dalam menggunakan bahasa. Dan, Bahasa Indonesia pun harus menjelma menjadi momok karena rumit dan kompleks.

Akhirnya, penambahan jam pertemuan pun akan sia-sia saja - seandainya memang ada - jika metode dan teknik pengajaran tetap sama. Tidak akan ada pengalaman belajar istimewa yang dirasakan siswa. Dan, nasibnya pun akan tetap merana, kalah bersaing dengan bahasa Inggris.


TAGS   Bahasa Indonesia / pembelajaran bahasa Indonesia / menulis / mengarang / bahasa Indonesia di bangku sekolah / tes bahasa Indonesia /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive