Mutiara's Notes

Setelah BBM Naik

1 Dec 2014 - 14:38 WIB

8a397f46d064da47bae5e13b337582a8_bbmKurang lebih tiga minggu berlalu sejak Presiden mengumumkan kenaikan harga BBM dari Rp6.500 ke Rp8.500 untuk premium, dan Rp.7.500 untuk solar. Dan, sampai saat saya memikirkan tulisan ini, jalanan masih terlihat seperti biasanya. Tidak ada perubahan apapun.

Kenaikan BBM memang selalu menimbulkan keributan. Bahkan, rencananya saja sudah bisa bikin orang panik. Itulah sebab para pengamat atau pakar meminta agar setiap kenaikan BBM tidak terlalu lama ditunda. Biar pasar tidak panik. Keributan kenaikan harga BBM tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa. Mahasiswa juga ikut ribut dengan demonstrasi yang tak berkesudahan, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Padahal, maaf, belum tentu semua yang berada dalam barisan itu paham apa yang sedang mereka teriakkan. Keributan juga melanda wakil rakyat. Mereka seperti tak terima harga BBM dinaikkan. Walhasil, satu kubu gencar melancarkan rencana interpelasi.

Seringkali, terlihat keributan ini membabi buta. Mumpung ada kesempatan. Kalau sudah begini, apapun penjelasan yang diberikan oleh pemerintah, baik melalui Presiden atau pejabat terkait, tak akan dipahami, atau boleh juga dikata, emoh untuk memahami. Yang terpenting, harga BBM tak boleh naik.

Sekarang, marilah kita coba lihat situasi di jalan raya. Dengan harga BBM yang katanya mahal, harusnya masyarakat lebih senang untuk mengandangkan motor dan memarkir mobil di garasi. Harusnya, transportasi umum lebih banyak dipilih, karena pasti lebih irit ketimbang naik motor dan mobil pribadi. Kenyataannya, jalanan masih juga ramai. Kemacetan juga masih ada. Itu bukti kalau orang masih belum rela memarkir sepeda dan mobil mereka di garasi. Atau, harga BBM saat ini tak menjadi masalah sama sekali. Selain itu, pom-pom bensin juga masih dibanjiri pembeli BBM. Bahkan, saya tidak mendengar mereka mengerutu saat mengisi BBM untuk kendaraan mereka. Semua, berjalan seperti biasa saja.

Juga marilah kita lihat di pasar-pasar. Para pedagang masih tetap laris. Pembeli juga tidak menunjukkan keengganan untuk belanja. Tak banyak yang berubah. Semuanya masih dalam kendali. Tak seperti yang dikhawatirkan, atau diributkan.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang diributkan? Kenaikan harganyakah? Atau…..?

Mumpung ada kesempatan untuk bikin keributan, marilah dimanfaatkan. Mungkin, keributan ini bisa memberikan sedikit goyangan pada yang sedang berkuasa dan memberi peluang untuk merebutnya atau setidaknya menaikkan pamor di mata orang banyak.

Barangkali, inilah yang sedang mereka pikirkan. Ya, semoga saja saya salah meski saya juga bingung kenapa mareka yang terpelajar itu sulit paham dengan penjelasan pemerintah yang sebenarnya cukup sederhana. Jadi, kalau bukan politik, apa namanya???


TAGS   harga bbm / kenaikan harga bbm / interpelasi / subsidi BBM /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive