Mutiara's Notes

Mengajarkan Kebenaran

12 Dec 2014 - 11:22 WIB

Pagi itu, saya benar-benar terkejut. Dengan begitu jelas, ibu yang sedang duduk di depan saya mengatakan bahwa dalam 3 hari terakhir, saat libur sekolah, anaknya yang belum genap satu semester di kelas 6 SD menghabiskan hampir 10 juta untuk bermain game online. Uang itu bersumber dari kartu kredit sang ibu. Sungguh tak terduga. Bukan saja dari besarnya uang yang dihabiskan, tapi juga dari profil sang anak, yang cenderung agak pendiam, dan terlihat jarang membicarakan tentang teknologi/gadget bersama teman-temannya. Rasa penasaran saya pun terjawab. “Baru tiga hari ini saya lihat di main game online, Pak. Sebelumnya tidak pernah.”

Di luar sana, pasti lebih banyak lagi kejadian yang hampir serupa. Saya yakin itu. Apalagi gadget yang serba canggih, bukan lagi barang asing bagi anak-anak. Bahkan, tak jarang orang tua pun kalah dalam hal ini. Namun, apa boleh buat. Tak sedikit orang tua yang kurang peduli dengan kondisi ini. Yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan sang anak. Apapun yang mereka minta sebisa mungkin akan diluluskan.

Inilah masalahnya. Rasa sayang yang berlebihan ditambah dengan kesibukan kerja sering membuat kita sebagai orang tua abai dan kurang peduli dengan apa yang terjadi pada anak-anak kita. Kita membekali mereka dengan semua yang kita bisa. Tapi, kita alpa untuk mengajarkan nilai kehidupan itu sendiri pada mereka. Saat mereka menuntut, katakanlah, gadget yang canggih, kita pun memberikannya. Sayang, kita tidak mengajarkan pada mereka nilai dari benda itu. Apa fungsi utamanya. Akhirnya, penyalahgunaan pun terjadi, melampaui apa yang kita bayangkan.

Saya jadi teringat dengan cerita kematian Resi Drona, guru para Pandawa dan Korawa. Sesaat sebelum kematiannya, Kresna memaparkan semua “sisi buruknya”, yaitu terlalu menuruti kemauan sang anak, Aswatama. Anak sang guru memang telah mendapatkan segalanya: harta, kepopuleran, bahkan kerajaan. Sayang, sang guru lupa mengajarkan keberanaran pada sang anak. Hingga, ia pun memihak pada ketidak benaran. Dan, hal ini pun menyeret Drona untuk juga memihak ketidak benaran. Apakah Drona tidak tahu akan hal ini? Ia tahu. Tapi, ia tak kuasa untuk menolaknya karena rasa sayang yang membabi buta pada sang anak. Anak adalah segala-galanya baginya. Tak ada yang lebih berharga dari sang anak itu sendiri.

Inilah problematika yang banyak kita hadapi. Rasa cinta yang membabi buta, membuat kita alpa mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada anak-anak kita. Nilai kebenaran yang akan menemani mereka menjalani kehidupannya kelak saat kita telah tiada.


TAGS   mengajarkan kebenaran / nilai kehidupan / cinta anak / mencintai anak-anak /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive