Mutiara's Notes

Kurtilas

15 Dec 2014 - 12:44 WIB

“Alhamdulillah, akhirnya, berhenti juga kurikulum 2013.” Begitu bunyi pesan yang terbaca di layar HP ku. “Kurikulum bau pemaksaan itu harusnya memang distop. Belum layak untuk diterapkan di seluruh sekolah. Mana ada kurikulum yang hanya dirumuskan dalam hitungan 2 tahun dianggap sudah layak pakai. Belum lagi, para guru sebagai pengguna belum benar-benar menguasai. Apa jadinya pendidikan kita?” Terus saja pesan itu memenuhi layar HP ku.

“Tak perlu kita ragu untuk menghentikan kurikulum ini, dan menoleh kembali ke kurikulum 2006. Biarlah orang mengatakan kita mundur. Bukankah untuk bisa meloncat jauh, kita butuh mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang? Memang aku akui, dari sisi pembangunan karakter, kurikulum 2013 jauh lebih baik dari sebelumnya. Rubriknya lebih jelas, sehingga memudahkah dalam memberi penilaian. Tapi, sekali lagi, sumber daya guru dan pendukung lainnya belum benar-benar siap. Dampaknya, siswa pulalah yang jadi korban. Siswa menjadi sosok yang super sibuk, bukan super aktif, untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Tugas-tugas jadi menumpuk, karena banyak guru yang masih bingung apa yang harus diajarkan. Dan, cara paling mudah adalah memberi tugas ke siswa. Selesai.”

“Tapi, kenapa masih ada 6000an lebih sekolah yang masih boleh menggunakan kurikulum ini?” Hanya sesingkat itu balasan yang kuberikan.

“Ah, itukan hanya masalah waktu saja. Hanya karena mereka telah menerapkannya lebih dahulu dari yang lain. Kalau orang Jawa bilang wes kadung. Tahun ajaran depan, kita belum tahu apakah mereka masih bisa melanjutkan atau akan dihentikan juga. Pernahkah kau berpikir, betapa sulitnya pelaksanaan UN jika masih ada sekolah yang melaksanakan kurikulum 2013? Dengan kurikulum yang sama saja pelaksanaan UN selalu amburadul, apalagi jika ada dua kurikulum?”

“Tapi, diknas provinsiku sudah memutuskan untuk tetap menggunakan kurikulum ini, meski buat sekolah yang baru satu semester menerapkannya?” Aku mencoba memberi balasan.

“Ada banyak pihak yang ini menunjukkan egonya atau juga gengsinya. Bukankah juga ada bisik-bisik yang mengatakan bahwa sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 memiliki mutu lebih baik dari yang kembali ke KTSP? Hanya karena dianggap telah siap. Sangat konyol. Kurikulum tidak memiliki kaitan dengan mutu sekolah. Karena yang lebih penting dari sekedar pilihan kurikulum adalah membuat anak-anak senang belajar tanpa harus merasa terbebani. Kalau pilihan menerapkan kurikulum 2013 lebih didasarkan pada ego, dan bukannya kesiapan dan evaluasi mendalam, sudah bisa dipastikan siapa yang akan jadi korbannya.”

“Itu artinya, kurikulum 2013 ini seharusnya memang dihentikan di seluruh sekolah?”

“Aku tidak mau mengatakannya. Itu akan menjadi pembicaraan yang lebih panjang lagi. Yang terpenting, setiap sekolah harus berpikir lebih dalam lagi. Berpikir lebih jauh. Bukan sekedar untuk nama baik mereka, tapi untuk anak-anak yang menjadi amanah mereka. Untuk masa depan anak-anak itu. Begitu pula dengan para pejabat diknas dan pemangku kepentingan lainnya. Nggak perlulah terlalu menonjolkan gengsi daerah agar dikatakan lebih bermutu dan hebat dari yang lain. Terlalu naif jika masa-masa membahagiakan untuk bersekolah berubah menjadi hari-hari penuh beban.”


TAGS   kurikulum 2013 / penghentian kurikulum 2013 / kurikulum sekolah /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive