Mutiara's Notes

Ucapan Natal

22 Dec 2014 - 21:56 WIB

Cling…sebuah pesan BC WhatsApp masuk dari seorang teman, berjudul Mengucapkan Selamat Natal. Isinya tidak seperti pesan-pesan pada umumnya yang hanya memuat berbagai dalil agama. Pesan ini berisi dialog dua orang, muslim dan non-muslim. Hanya, kandungannya tetap sama, melarang seorang muslim mengucapkan selamat natal pada kaum kristiani.

Bulan Desember, terutama menjelang pertengahan, kita akan selalu disuguhi berita yang itu-itu saja, polemik pengucapan selamat natal. Tahun lalu juga begitu. Dan tahun ini pun sama. Polemik muncul saat Presiden Jokowi berencana untuk “Natalan” di tiga kota di Papua, Jayapura, Wamena, dan Sorong. Dan Ormas FPI pun lantang mengharamkan siapapun termasuk Jokowi untuk mengucapkan Selamat Natal, apalagi Natalan.

Turun ke daerah, kondisinya sama. Di satu kota di Jawa Timur, tepatnya Mojokerto, bahkan satu ormas, JAS, berencana akan merazia toko-toko, termasuk minimarket, supermarket, atau retail, yang pegawainya memakai atribut dan aksesoris Natal.

Bagi mereka si pengharam ini, mengucapkan, memakai atribut, atau aktifitas lain yang terkait, menandai adanya ucapan selamat atas kelahiran Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah dilahirkan. Saking kerasnya, siapapun yang masih melakukannya, termasuk juga Presiden, dianggap telah murtad, keluar dari agama Islam. Sungguh mengerikan.

Lain lagi dengan NU, salah satu ormas terbesar ini memperbolehkan umat muslim untuk mengucapkan Selamat Natal. Alasannya sederhana, hanya sekedar mengucapkan tanpa meyakininya tidak akan menganggu akidah. Begitu juga bagi mereka yang ingin memakai berbagai atribut terkait perayaan hari keagamaan ini. Semua boleh dan sah. Toh, hanya sekedar untuk menunjukkan toleransi kita pada umat agama lain yang selama ini hidup bersama dan bertetangga dengan kita. Pun, juga dengan Muhammadinyah. Tidak ada keharaman untuk memberikan ucapan Natal ini. Buya Syafii Maarif bahkan menyamakan ucapan Selamat Natal ini dengan selamat pagi, atau barangkali juga sapaan yang lain. Tak ada sangkut paut dengan urusan teologis.

Siapa yang lebih tahu tentang keimanan seseorang selain dari si orang tersebut dan Tuhannya. Perwujudan tidaklah selalu menandakan sesuatu dari yang dikandung. Ucapan tidaklah selalu menandakan kata hati, apalagi keyakinan. Ucapan, pakaian, atau aksesoris bisa jadi hanya atribut luar saja. Seseorang yang dalam kesehariannya memakai sarung atau kopiah misalnya, tak dapat diartikan kalau orang tersebut muslim sejati dan ahli ibadah.

Lagi pula, apa kita benar-benar tidak tersangkut sama sekali dengan perayaan hari besar umat Nasrani ini? Barangkali, kita memang tidak memberikan ucapan selamat. Tapi, kita ikut antri di toko-toko swalayan yang sedang mengeber diskon untuk perayaan ini. Atau, kita turut memadatkan jalanan karena menikmati liburan Natal. Ahh…

Urusan keyakinan dan keimanan biarlah itu Tuhan yang menilai. Kebetulan, kita juga tidak sedang hidup di negara yang semua penduduknya memeluk satu agama. Ada banyak agama di sini. Dan, saat satu pemeluk merayakan hari besar mereka, apa salahnya jika kita menghormati, walau hanya dengan mengucapkan selamat. Sama halnya saat kita merayakan hari besar kita. Kita juga senang saat ada tetangga yang mengucapkan selamat, meski dia tidak seagama dengan kita. Ucapan selamat seringkali membuat orang yang menerimanya merasa bahagia.

Selamat Natal bagi yang merayakan. Dan, syukurlah keyakinan saya tak berubah!


TAGS   selamat natal / ucapan natal / perayaan natal / natalan / razia natal /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive