Mutiara's Notes

Unas atau Enas?

28 Dec 2014 - 10:06 WIB

“Pak, Unas mau diganti Enas.” Kata seorang teman sambil menyodorkan sebuah koran nasional. Saya bolak balik koran tersebut dan mulai membaca berita tersebut. Benar saja BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) berencana untuk menganti Ujian Nasional (Unas) menjadi Evaluasi Nasional (Enas) (Jawa Pos, 26/12).

Rasanya, belum selesai benar polemik K-13 diperbincangkan. Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 pun masih baru meluncur. Tiba-tiba, kebijakan baru tentang pendidikan sudah siap meluncur kembali. Bukan sekedar terkesan berjejal dan antri keluar. Lebih dari itu, bagaimana nasib siswa-siswa di kelas akhir setiap jenjangnya?

Jika mengikuti siklus tahunannya, Unas mungkin hanya tinggal 4 atau 5 bulan lagi. April dan Mei menjadi bulan hajatan besar bagi sekolah dan siswa kelas akhir. Juga pastinya para orang tua yang menginginkan anaknya lulus memuaskan. Artinya, persiapan pasti telah dilakukan, baik oleh siswa itu sendiri atau pihak sekolah. Bukti paling gampang, di tempat saya Surabaya, berbagai tryout menyambut Unas telah digelar oleh beberapa lembaga bimbingan belajar. Bahkan, saya sendiri sudah pernah mengikutkan siswa-siswa saya pada ajang tryout tersebut. Selain itu, sejak beberapa bulan terakhir, hampir semua lembaga bimbel telah penuh pendaftar. Terlihat dari berjejalnya ruang parkir. Lalu, apa jadinya ketika persiapan yang telah berjalan ini “ditelikung”?

Mengutip koran tersebut, ibarat balapan, siswa kelas IX dan XII telah memacu motornya sekencang mungkin untuk mencapai garis finish. Namun, tiba-tiba, saat garis hanya menyisakan sedikit lap lagi, garis finish diubah oleh panitia. Bisa kita bayangkan, bagaimana bingung dan paniknya para pembalap itu. Bayangan mereka akan garis finish yang dituju dibuyarkan di tengah jalan.

Ya, andai hanya perubahan nama tanpa disertai dengan perubahan konsep dan sistem, para siswa tersebut masih bisa bernapas lega. Tapi toh, buat apa hanya mengubah nama saja. Apa dampak signifikannya bisa proses ujian itu sendiri? Yang muncul adalah kesan tak mau sama dengan rezim sebelumnya. Kesan asal beda. Penarikan K-13 saja sudah banyak disorot seperti itu.

Yang merisaukan tentunya jika perubahan ini disertai dengan perubahan konsep dan sistem. Bisa jadi, kejadian-kejadian tahunan yang kita lihat jelang pelaksanaan unas bukannya semakin berkurang. Malah, akan semakin bertambah parah. Lagi-lagi, kepanikan menjadi dasarnya.

Tiap tahun memang kita dengar beragam penolakan unas yang dilontarkan oleh berbagai pihak dengan beragam alasan pula. Hanya, ini tidak bisa menjadi alasan untuk mengubah pelaksanaannya di tengah jalan. Cukuplah penarikan K-13 saja yang di tengah jalan. Andai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui BSNP ingin melakukan perbaikan unas, akan lebih baik dilakukan di tahun ajaran depan. Ada waktu bagi para siswa menyiapkan diri dan mengatur strategi. Biarlah, pendidikan tetaplah menjadi proses yang menyenangkan, sebagaimana yang seharusnya terjadi.


TAGS   Unas / Enas / Ujian akhir nasional / BSNP /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive