Jengkel dan bingung, inilah yang barangkali sedang dirasakan oleh para guru bersertifikat di kota Malang. Pasalnya, Dinas Pendidikan setempat mewajibkan para guru tersebut untuk membeli laptop yang dikoordinasi oleh diknas sendiri. Sialnya, aturan ini berlaku untuk semua, termasuk guru yang sudah memiliki laptop sebelumnya.
Upaya meningkatkan kemampuan teknologi informasi bagi para guru menjadi alasan diknas memunculkan aturan ini. para guru diwajibkan untuk membeli laptop bermerek Toshiba dengan kisaran harga 7.8 juta. Memang pembayarannya bisa dilakukan dengan mencicil, namun kisaran harga ini membuat para guru keberatan. Mereka pun mempertanyakan kenapa harus semua? Kenapa tidak hanya untuk yang belum memiliki laptop saja? Meski Walikota Malang sudah menyatakan bahwa tidak boleh ada pemaksaan untuk pembelian laptop ini, para guru tetap meragukannya.
Kisaran harga 7.8 juta memang cukup mengejutkan. Setidaknya dengan harga ini, laptop yang akan didapat sudah memiliki spesifikasi menengah keatas, seperti Core i3-2330M, 2 GB DDR3, 640 GB HDD. Pertanyaannya mungkin, haruskah setinggi ini spesifikasi yang dibutuhkan oleh para guru jika hanya untuk meningkatkan kemampuan IT nya? Tidak cukupkah dengan laptop berkemampuan menengah kebawah?
Sebagaimana kita ketahui, mayoritas guru masih dalam tahap belajar teknologi, terutama untuk guru yang usianya diatas 40 tahun. Artinya, bisa jadi spesifikasi tinggi akan menjadi mubadzir karena ada kemungkinan para guru tersebut belum bisa memanfaatkannya. Paling banter, mereka memanfaatkan teknologi laptop untuk membuat presentasi dan internet. Artinya lagi, spesifikasi rendah dengan kisaran harga 2 - 3 jutaan menjadi harga yang lebih rasional.
Kebijakan memaksa
Kita semua memang mengamini bahwa guru harus melek teknologi. Para guru harus selalu mengupdate dan mengupgrade kemampuannya terutama yang berhubungan dengan teknologi yang berkembang dengan begitu cepatnya. Hal ini akan membuat proses belajar mengajar bisa lebih menarik dan otentik. Meski begitu hal ini tidak harus diterjemahkan dengan mewajibkan mereka membeli laptop. Tidak ada jaminan bahwa memiliki laptop akan bisa membuat seseorang melek teknologi.
Ada baiknya keinginan ini diterjemahkan secara lebih bijak. Para guru diberi kebebasan untuk menentukan sendiri laptop yang akan mereka beli sesuai dengan kemampuan mereka. Dinas hanya perlu memberi pendampingan lewat pelatihan yang berkelanjutan. Mewajibkan membeli laptop tanpa memberi pendampingan pelatihan yang maksimal akan menjadi percuma. Para guru yang sudah disibukkan untuk menyiapkan pengajaran mereka tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk belajar teknologi secara otodidak, apalagi untuk mereka yang baru pada tahap belajar.
Peningkatan teknologi di ruang kelaspun harus diperhatikan, seperti penyediaan Komputer dan LCD projector. Apa jadinya jika para guru sudah memiliki laptop tapi mereka tidak punya media untuk memanfaatkannya di ruang kelas. Bukankah ini juga menjadi sesuatu mubadzir?
***
Yah..keputusan ini memang belum final, semua masih bisa berubah. Namun, yang pasti kita menanti adanya kebijakan yang memang bijak, bukan kebijakan yang memaksakan, yang hanya sekedar untuk meningkatkan prestise dan ujung-ujungnya untuk meraup untung.
Penguasaan teknologi untuk para guru memang sangatlah penting. Tuntutan teknologi yang sudah semakin tinggi secara tidak langsung menuntut guru pula untuk setidaknya mengetahuinya. Namun, apakah ini disadari oleh semua guru? Bukankah lebih baik dinas bergerak secara intensif dalam memberikan penyadaran melek teknologi bagi para guru? Jika guru saja belum sadar bahwa mereka harus melek teknologi, memiliki laptop tidak akan memberi makna apapun.
——————————————-
Related posts
Wajah pendidikan: dulu sampai sekarang
Membongkar elitisme lembaga sekolah
Internetku sayang, siswaku malang



Februari 3rd, 2012 at 8:27 am
nice artikel nih :D
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 10:06 am
Dinas Pendidikan Kota Malang sepertinya sudah memberikan gagasan yg menarik, & sudah seharusnya Guru ikut melek teknologi (ini untuk guru yg belum ya), berikut juga prosedur sistem yg diterapkan di banyak sekolah yg masih manual seharusnya sudah terkomputerisasi, agar semua proses berjalan rapi & lebih baik lagi. Namun, semestinya si guru tersebut dibolehkan untuk bisa membeli sendiri laptop sesuai dengan kemampuannya, bukan atas ‘harus’ dengan nada paksaan. Selain Laptop, aku yakin masih banyak kebutuhan yg lebih penting dari itu. Maju terus Indonesia, khususnya di bidang pendidikan.
Salam, :)
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 12:52 pm
bagus sih para guru harus melek TI, tapi apa ya terus “diwajibkan” beli laptop spec tertentu, aku aja yg sehari2 kerjaannya sangat memanfaatkan pengetahuan TI, gak perlu2 amat kok pake yag spec tinggi, pake netbok 2 jutaan aja bisa, memang sih dikantor dikasih spec yg tinggi.
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 1:29 pm
Mestinya tidak harus Toshiba yg seharga 7,8 juta. Dengan Netbook yang berharga 2-3 juta sudah cukup untuk sekedar mulai belajar IT. Patut dicurigai motif diknas melakukan pemaksaan tersebut.
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 1:40 pm
itu mah akal2an project aja. Laptop 7,8 juta adalah spesifikasi untuk para gamers dan designer grafis profesional. Kalo buat guru cukup netbook yg 3 jutaan.
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 6:39 pm
Setuju ama yang laen. Ini cuma akal-akalan proyek aja. Ngapain coba guru sampai harus wajib beli laptop, bahkan yang sudah punya sekalipun, apalagi harus yang speknya tinggi. Buat apa? Netbook 2-3 jutaan sudah lebih dari cukup untuk penggunaan harian. Memangnya para guru itu mau disuruh maen skyrim/fear/halo rame-rame?
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 7:31 pm
Jangan salah … diDiknas juga merupakan salah satu sarang para koruptor, oknumnya main potong dana BOS, dana pembangunan sekolah dll. dan laktop ini merupakn projek selanjutnya… jadi segerakan hukuman mati bagi koruptor.. baru orang mikir 2 kali unuk korupsi….
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 7:32 pm
Melek computer memang harus tapi caranya bisa macam macam , melalui warnet, komputer saudara teman dll atau punya sendiri.tidak perlu pakai laptop, kalau data sekolah harus pakai laptop pribadi itu namanya pemerasan dan arogansi dari Dinas pemerintah , Harusnya pemerintah yang sediakan komputer itu
Atau koordinasi beli laptop dengan spec yang cukup tinggi hanya akal akalan staff Dinas saja
Dikantor swasta belon pernah denger staff perusahaan diharuskan beli laptop dan dikoordinir
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 7:52 pm
Kenapa harus toshiba?
pengalaman teman saya yg guru di sma di jogja, kemarin beli laptop bagimu guru yg di carefour. belum setahun sudah ada masalah pada motherboard-nya. setelah dibuka… eh kok komponen sudah tidak asli lagi, alias ada yg di kanibal.
semoga tidak ada tipu2 lagi dalam program ini. kasian guru2 yg kurang tau teknologi. Spek di atas utk kegiatan office dan ngenet sudah terlalu tinggi dan terlalu wah. kalo utk olah multimedia dan grafis mungkin masih sepadan dgn speknya.
nice artikel!
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 8:47 pm
gini lho guru memang seharusnya melek tehnologi jangan kan guru kalau perlu seorang petani pon bisa atau masarakat pada umumnya tapi kan caranya nggak harus di paksa beli. saya sendiri bisa melek tehnologi bukan karena harus beli yang baru dari beli bekaspns yang orang bilang sudah kuno toh bisa membawaku ke dunia maya ,,,emang leptot baru yang harganya ampai 7 juta trus bisa membawa guru spetakuler? saya yakin nggak segampang semua guru bisa langsung menguasai karena biar jago ngajar tapi untuk menguasai liptop juga harus belajar dikit demi dikit
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 10:23 pm
Jauh sebelum tulisan ini dimuat sy sudah belikan istri (guru) komputer dan laptop.. begitu juga mertua, adik sy juga guru dan mereka punya laptop sendiri…so, emang laptop dan akses internet sudah jadi kebutuhan ….
[Reply]
Februari 3rd, 2012 at 11:29 pm
Melek IT saat ini sudah jadi bagian dari peningkatan pedagogi pendidikan karena banyak bahan ajar yang dapat segera, cepat dan mudah di sampaikan. tapi yang non IT juga sama pentingnya. yang jadi masalah knapa ada spec seperti merk bukannya hal tersebut dilarang, dan pemenuhan alat ajar (jika dianggap sebagai alat bantu ajar) merupakan kewajiban dinas untuk membantu memenuhinya, bukan dengan membebenani berlebihan seperti cerita diatas (kalo benar seperti diatas kejadiannya). seperti di korea, yang bisa mencicil (mungkin perlu di pikirkan sistem sewa jd selalu up to date). ayo dinas cerdaslah sedikit kalo bikin kebijakan…saya yakin anda lebih cerdas dari ini….
[Reply]
Februari 4th, 2012 at 5:45 am
kalo pengalamanku, yang kayak gini pasti ada campur tangan dari toko…. udah hafal aq…… :p
[Reply]
Februari 4th, 2012 at 6:06 am
saya bukan seorang guru, tetapi banyak teman guru, memang zaman telah berubah, jangan istilahnya dipaksa, seharusnya muncul dari guru itu sendiri, bahwa untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru “harus” tidak gaptek…apa jadinya…kalau murid-muridnya sudah pegangannya laptop, sedang gurunya belum familier dengan TI,…terus bagaimana didepan anak-anak? selamat berjuang bapak dan ibu guru…
[Reply]
Februari 4th, 2012 at 9:55 am
tender… tender…
lumayan kan buat bikin dapur ngebul pejabat…
kalo menag diharuskan membeli laptop,
biar tuh guru-guru beli sendiri…
dari jauh udah kecium bau busuknya..
[Reply]
Februari 4th, 2012 at 7:18 pm
yah kalau boleh komen, guru memang diharuskan melek teknologi, jadi tidak kecolongan teknologi oleh murid-murid yang curang dan nakal di sekolah. namun kata diwajibkan itu serasa memberatkan, apalagi dengan spek yang tinggi seperti itu. Kalaupun harus dipaksa beli, biar guru yang memilih sendiri. Kalau tetap dipaksa dengan pilihan laptop tersebut, kenapa tidak dari diknas yang membelikan laptop tersebut? lha pihak DPR pusat saja dibelikan, masa’ yang “mengajar orang2 DPR” tidak dipedulikan? jadi saya rasa kurang pas kalau diknas mengharuskan jenis laptop tersebut, biar guru yang memilih sendiri atau rasa-rasanya ada pihak-pihak tertentu yang main belakang dengan diknas ini :p
[Reply]
Februari 4th, 2012 at 11:37 pm
gak penting banget ya mas comment-mu.. ini kan pada ngomongin kenapa harus semua, kenapa harus yang mahal, dan kenapa harus toshiba.. melek IT tapi gak melek otak sama aja boong
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:11 am
Untuk mendukung kinerja para guru, seharusnya Diknas memberi laptop pada para guru tersebut secara cuma-cuma, bukannya mewajibkan mereka mengeluarkan uang pribadi untuk membeli peralatan yang melebihi kebutuhan.
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:21 am
saya sepakat seorang guru harus punya laptop. namun biarkan sang guru membeli sesuai dengan kebutuhan. guru yg sudah punya laptop mengapa juga mesti –dipaksa– beli laptop lagi apalagi harga laptopnya lebih dari 7jt. cukup banyak laptop di kisaran harga 4-5jt yang sudah mumpuni. bahkan, beli sekedar dipergunakan untuk buat presentasi + internet, netbook di kisaran harga 2,5jt - 3,5jt dah lebih dari cukup ..
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:44 am
Sesuatu yang dipaksa itu kurang baik, kecuali belajar
Belajar dan kata-kata lain anak turunannya memang harus dipaksakan kepada yang namanya manusia
Jika ada sesuatu selain belajar dipaksakan kepada manusia dan manusia itu tidak menolaknya, sama artinya dia menerima pemaksaan itu. Segala sesuatu yang sudah diterima dengan kesadaran haruslah dilaksanakan dengan kesungguhan.
Namun jika dirasa pemaksaan itu tidak bermanfaat segera sampaikan langsung kepada pihak yang berwenang untuk perbaikan.
Untuk menuju kepada sebuah kemajuan sebaiknya jangan menunggu komponen lain siap. Jika menunggu-menunggu, sampai kapan Bangsa ini tetap terkungkung dalam tempurung
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 1:48 pm
Niatnya sih bener, tapi kebijakannya koq jadi aneh gini ya. Gak perlu lah diwajibkan beli laptop. yang perlu itu semua guru wajib bisa komputer, adain saja training-training soal komputer, sambil jualan komputer. itu baru bener dikit. Ketimbang ini jualan maksa
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 1:50 pm
Kbijakan yang aneh. Pemerintah kadang-kadang sok pinter nih.
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 1:54 pm
Saya aja guru pake laptop yang 3 jutaan. beli yang 7 jutaan gak mampu tuh buat seorang guru. yang penting bisa buat ngetik, presentasi, sama olah data aja. Kelewatan tu Pemda. Conba aja mereka diwajibkan buat beli lapotop. Pasti nyesek juga tuh. Bikin popularitas yang gak beres aja
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 2:25 pm
Yang perlu dipaksa adalah kemauannya untuk belajar komputer,karena yg saya ketahui kemauan belajar mereka sangat rendah sekali.Kalau pemaksaan beli laptop dgn spek yg begitu tinggi ini ,saya pikir perlu dicurigai siapa oknumnya !!!!!
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 3:08 pm
Melek tekhnologi untuk para guru memang penting, namun sepertinya ada aroma yang tidak beres kalau diknas sampai memaksa membeli laptop yang berharga segitu. :?
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 5:49 pm
Saya yakin-seyakinnya bahwa yang punya kebijakan tersebut, asal nyeplos padahal tidak mengerti apa dan sampai dimana kegunaan dan kebutuhan guru dalam menggunakan laptop, teman2 lain sudah benar, yang sudah punya tidak perlu dipaksa beli lagi, mubazir, cukup dengan netbook 2-3jt sudah bisa berkarya dan bekerja, saya dengan netbookpun bisa menghasilkan 30x harga laptop yg diusulkan dinas diknas Malang, proyek…proyek…proyek ngisin-ngisinke wae, ketok guobloke~
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 7:20 pm
hem…. Unsur Korupsi - Pemaksaan kehendak sudah menjadi budaya di negeri ini. Kejadian diatas hanya akan memicu kejadian berantai - jika Sang Guru ternyata dengan satu alasan “Tidak mampu” menyicilnya dan kemudian melakukan hal yang tidak patut apalagi sampai merugikan orang lain - maka ini bukanlah sebuah program yang baik, tetapi lebih merupakan kepada penghancuran bangsa. jika hanya dengan alasan melek Informasi maka biarkan mereka memilih laptop yang sesuai dengan budget dan selera mereka.
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 9:51 pm
saya seorang guru di pelosok Jogja, dalam hal melek IT, di tahun 1998 saya sudah punya email, dan kenal internet walaupun saat itu belum punya laptop…!
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:17 pm
hari gini koq masih ada saja yg main paksa..
mbok ya malah guru itu sebaiknya diberi fasilitas gratis minimal netbook aja untuk meningkatkan kinerjanya..
bolehlah baru setelah itu guru dipaksa nulis pake netbook itu dan harus bisa mengajar presentasi pake netbook di depan murid……
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:24 pm
kenapa ngga skalian aja diwajibkan minum tinta printernya…dasar setan makin merajalela aja disemua lini
[Reply]
Februari 5th, 2012 at 11:27 pm
sekarang guru yang dipaksa beli laptop, berikutnya siswanya …. dah pasti diknas malang oentoeng gede
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 5:30 am
kalau disuruh membeli laptop segitu sepertinya tidak apa, tapi untuk penggunaannya yang susah, coba saja, berapa banyak yang bisa IT, bisa menembus server, membuat virus sendiri, cracking, trojan attack, dan deface, pasti tidak banyak guru yang bisa design grafis, nah untuk itu diknas harus memberikan contoh yang tepat kepada guru-guru agar mereka bisa semua itu saat membeli laptop baru.
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 8:37 am
koq hari gini masih ada mai paksa…..
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 9:37 am
Biasa proyek itu heheheehe
[Reply]
Februari 6th, 2012 at 10:28 am
menurut saya kok itu paksaan yg baik yaa…punya laptop banyak manfaatnya juga kok^^
bisa di pakai anaknya juga buat bikin tugas2 sekolah. guna kan? hehe
-salam kenal-
[Reply]
Februari 9th, 2012 at 1:13 pm
Hallo Kadiknas, ngomong lo, klo dah rame ngumpet. Untuk para guru, trus bikin rame meskipun perkara kecil. Diknas, pancet wae, mulai jaman dulu.
[Reply]
Februari 9th, 2012 at 1:59 pm
biasa,klo disorot masa jadi bisu n budeg. paling2 tunggu cooling down dg sendirinya.
alaaaooowwwwww kadiknas
[Reply]
Maret 19th, 2012 at 6:54 pm
It is great that something interesting here could be found.Excellent work!
Lots of useful information!Thanks very much for your sharing.
[Reply]
Maret 21st, 2012 at 3:21 pm
The base will ever accept foreign aid? Media questioned say, the foundation had production to oxygen German enterprise bear gallbladders acid falk cor
[Reply]