Masih Ingatkah Kau Dengan Janjimu, Kawan?
Kawan,
Kemana saja kau? Lama kita tidak bertemu. Bahkan, aku sudah lupa dimana terakhir kali kita bertemu, baju apa yang kau kenakan, kau bercelana atau memakai sarung kesayanganmu. Hanya satu yang masih ku ingat dari pertemuan yang sudah lama itu, kawan, janjimu. Janji yang kau ucapkan dengan begitu berapi-api, sampai-sampai air liurmu sedikit muncrat keluar membuat ku bergidik geli. Masih ingatkah kau dengan janjimu itu, kawan?
Kawan,
Kau masih ingat dengan pak Rono? Itu, tetangga ku yang katanya orang paling kaya di desa kita. Kau masihkan saat kita pernah mencoba menghitung jumlah kambing ternaknya saat menjelang Maghrib? Selalu saja kita punya hitungan yang salah. Kau tidak kurang ya kelebihan. Aku masih ingat banget ekspresi wajahmu sambil menggerutui jumlah kambing ternak pak Rono yang terlalu banyak sampai sulit dihitung. Lucu sekali kau saat itu. Orang punya kambing banyak kok digerutui, padahal kau tahu kan Pak Jai yang bingung karena sepasang kambingnya tak juga beranak. Meski katanya kedua kambing itu hidup dalam kandang yang sama. Sampai-sampai pak Jai pergi ke dokter kandungan hewan untuk memeriksakan kesuburan kambing-kambingnya. Ah..tapi itu dulu kawan. Sekarang ceritanya sudah lain. Roda pedati pak Rono dan Pak Jai sudah berputar. Kau pasti tak percaya kalau kambing pak Rono yang sebegitu banyaknya kita sudah tak bersisa. Sejak beberapa bulan yang lalu, setiap pagi selalu saja ada kambing yang mati mendadak. Tak ada satu orang pun yang tahu penyebabnya. Tapi dari desas desus yang terdengar, kambing-kambing itu mati karena kekurangan gizi, kurang makan sih tepatnya. Katanya, Pak Rono sudah enggan mencari rumput, bosan, karena tiap hari harus mencari rumput. Sementara, kau tahu Pak Jai? Jumlah kambingnya sekarang sudah tak terhitung. Sejak pulang dari dokter kandungan hewan itu, Pak JaI rajin mencari rumput segar untuk makanan kambingnya. Bahkan, sampai sekarang tiap pagi atau sore hari, gerobaknya masih selalu penuh dengan rumput-rumput hijau nan segar.
Oh ya, kawan, kau masih ingat dengan si Anu, kan? Teman kita semasa kuliah dulu. Semoga kau masih ingat meski sudah lama pula kita tidak bertemu dia. Aku saja jarang ketemu dia, apalagi kau yang lagi tak ada. Sejak terpilih jadi pejabat, ia jarang pulang kampung. Bahkan untuk mengunjungi sanak keluarganya atau ziarah ke makam bapaknya. Mungkin, pak RT/RW juga sudah lupa kalau pernah punya warga namanya Anu. Rumahnya yang di pinggir desa sudah lama di jual. Ibunya ia ajak ke kota. Katanya, supaya bisa hidup lebih tenang. Padahal, beberapa bulan sebelum pemilihan berlangsung, ia sibuk keluar masuk rumah-rumah tetangga. Mungkin, taka da satupun rumah di desa atau kecamatan kita yang tak dimasukinya. Ia sibuk meminta restu sekaligus memohon dukungan. Katanya, ia akan memperbaiki kondisi dengan kita kalau terpilih. Tapi, ya begitulah kawan. Kau sudah faham betulkan? Orang yang belum merasakan kenikmatan selalu akan berbusa-busa mengatakan akan berbagi kenikmatan dengan yang lain. Tapi, saat ia sudah merasakannya, rasa eman-eman datang dan ditelanlah semua kenikmatan itu sendirian, sampai tandas tak tersisa. Bahkan kalau perlu, kenikmatan orang lain pun akan dihabiskannya. Kau pasti sudah faham betul apa maksudku kan, kawan? Kita juga sering mendiskusikannya saat sedang melihat atau membaca berita tentang tingkah pola pejabat negara kita. Tapi, aku tak tahu kawan, akhir-akhir ini, nama si Anu sering menghiasi judul Koran. Aku juga sering mendengar namanya sering disebut-sebut oleh pembawa acara televisi yang ditonton adikku. Apa si Anu sekarang sedang terlibat masalah, ya? Atau, ia malah sedang mendapat prestasi besar atas kinerjanya?
Oh, ya kawan. Kau masih ingatkan dengan janjimu? Kenapa kau masih saja beredar di luar sana. Menyeberang dari Timur ke Barat, menikung ke Utara lalu menyeberang lagi ke Selatan. Tak inginkah kau berhenti sejenak saja? Kita duduk bersama, menyeruput kopi, menikmati kretek kesukaan kita, sambil berbincang kecil tentang diri kita. Kalau kau terus berputar-putar tak tentu arah begitu, aku khawatir kau akan lupa ingatan. Jangankan untuk janji yang kau ucapkan bertahun-tahun yang lalu. Untuk apa yang baru kau ucapkan saja, kau bisa lupa ingatan. Sempatkanlah untuk duduk sejenak kawan. Sejenak saja, setidaknya untuk membaca surat elektronikku ini.
Jadi, dimana kau sekarang, kawan? Masih ingatkah kau dengan janjimu, kawan?

















April 8th, 2013 at 9:39 am
jadi inget ma temen juga.. apa dia disana inget ma aku??? janji terakhir kita bertemu??? :’(