Beberapa hari ini layar kaca kita ramai dengan berita persidangan yang sedang melibatkan kasus-kasus besar, sebut saja kasus suap Wisma Atlet serta kasus suap di Kemenakertrans, dua kasus besar yang banyak melibatkan pejabat publik, baik sebagai terdakwa atau saksi.
Menyaksikan persidangan kasus-kasus besar nan mempesona, ekspektasi publik mungkin sama, sidang akan berjalan seru layaknya persidangan Sirus Sinaga, ramai dan seru. Namun, harapan tinggal harapan. persidangan berjalan datar, dingan, tak menarik, sangat antiklimaks. Sebabnya sederhana, terlalu banyak saksi dan terdakwa yang mengatakan “tidak tahu”, “tidak ingat”, “lupa”, sangat pertanyaan-pertanyaan datang menyerang.
Adalah wajar ketika seseorang lupa dan tidak ingat apa yang telah terjadi. Rutinitas dan kesibukan harian serta banyaknya hal-hal penting yang terjadi dalam kehidupan kita seringkali membuat kita lupa dan tidak ingat dengan masa yang telah kita lewati. Namun, akan jadi sangat lucu ketika kondisi “tidak tahu”, “tidak ingat”, dan “lupa” ini terjadi secara masal, seperti dikomandoi, dan disetir pakai remote control. Lebih lucu lagi, ketika yang tidak diketahui, tidak diingat, dan dilupakan adalah kejadian-kejadian maha penting yang melibatkan kinerja serta kepentingan publik, dalam hubungannya mereka sebagai pejabat publik. Maka, kita pun berhak menanyakan, “Apakah benar-benar “tidak tahu”, “tidak ingat”, “lupa” atau sengaja melupa?”
Jurus melupa memang sering digunakan seseorang agar terhindar dari masalah yang lebih rumit lagi. meski sebenarnya ia ingat, namun agar tidak terseret lebih jauh, banyak orang yang memilih dengan enteng untuk mengatakan, “tidak tahu”, “tidak ingat”, atau “lupa”. Cara ini memang terkadang cukup efektif. Bayangkan saja, seseorang yang sudah menyiapak pertanyaan sedemikian rupa dengan pemikiran yang matang, tapi tiba-tiba mendapat jawaban “tidak tahu”, “tidak ingat”, “lupa”, maka sepertinya nafsu untuk bertanya seketika meluber. Apakah ini juga yang sedang diterapkan oleh para pejabat kita sekaliber Muhaimin Iskandar, Andi Mallarangeng, atau Angelina Sondakh yang sedang menjadi saksi dan terdakwa dua kasus besar? Sengaja tidak tahu, tidak ingat, atau lupa untuk mencari aman.
Jika benar. Maka, persidangan yang lagi ramai disorot oleh media dan segenap masyarakat penjuru negeri ini tidak akan menghasilkan apapun, kecuali parade manusia-manusia tidak ksatria, yang tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, yang secara terbuka tidak berani mengungkapkan kejujuran, dengan berlindung dibalik kata “tidak tahu”, “tidak ingat”, “lupa”. Lalu pertanyaannya, mau dibawa kemana negeri ini ketika pejabatnya dengan mudah cuci tangan dengan menggunakan kata-kata aman?
Memang, belum ada bukti yang jelas bahwa mereka melakukan kebohongan dengan mengatakan “tidak tahu”, “tidak ingat”, “lupa”. Barangkali, hanya waktu yang akan segera memberitahu. Yang pasti, negeri ini menginginkan sosok pejabat yang ksatria, dan pemberani, bukan memble dan sering terserang amnesia.
————————————————–
Related posts
Saat mobil pak Presiden melintas


